Cinta Pertama: Apakah Selalu Tak Terbalas?
Cinta Pertama. Dua kata yang kurasa pernah hinggap di kehidupan tiap orang. Ada yang bilang cinta pertama itu adalah saat kita pertama pacaran. Tapi bagiku, cinta pertama adalah kali pertama kita jatuh cinta. Pertama kali menyukai lawan jenis. Dan dalam kasusku, cinta pertamaku adalah teman sekelasku sewaktu SMP. Sebut saja namanya Fareast. Dasarnya dari kecil suka yang berbau-bau Jepang, melihat sosoknya yang bermata sipit dan berkulit cerah kontan aku jatuh hati. Memang, kali pertama perasaan itu datang karena tampilan fisiknya. Apalagi dia jago bermain basket dan populer di kalangan para siswi. Ada kalanya beredar kabar angin bahwa dia itu playboy--sering gonta-ganti pacar. Tapi ya itu, namanya juga cinta. Buta. Aku terus saja menyukainya dan memupuk harapan padanya. Melihat kegigihanku, sahabat-sahabatku pun akhirnya menyemangatiku untuk terus memelihara perasaan cinta itu, terlepas dari tampilan fisikku yang sama sekali tak masuk kriteria gadis yang dipacarinya. Setahun berselang, perasaan sukaku masih bertahan. Walau entah sudah berapa kali dia memacari gadis-gadis cantik nan populer di sekolah, aku masih saja menyukainya. Terlebih ketika aku sedikit demi sedikit mulai tahu tentang pribadinya, yang meskipun sering bolos dan gonta-ganti pacar, dia sebenarnya berotak encer. Menginjak tahun ketiga, aku mulai memberanikan diri berbuat sesuatu. Menyatakan perasaan? Tentu tidak. Kala itu belum masanya cewek nembak duluan. Aku hanya berangkat pagi buta, lalu menaruh permen di laci mejanya. Hal ini berlangsung sampai beberapa bulan, sebelum akhirnya aku berhenti karena dia mulai curiga. Puncaknya adalah saat mendekati ulang tahunnya. Aku ingin menghadiahinya sesuatu. Seakan takdir berpihak padaku, terbukalah jalan untuk melakukannya. Ternyata, kakak sulungku yang saat itu menjadi penyiar radio amatir, bercerita bahwa Ayah Fareast adalah pendengar setia di acara yang kakakku pandu. Akhirnya setelah kado ulang tahunnya siap, kakakku lah yang menyampaikannya, karna aku tak punya cukup nyali. Lalu, apa yang selanjutnya terjadi?
Comments
Post a Comment